Strategi Industri Kreatif Dalam Masa “New Normal”

Di masa pandemi ini banyak warga masyarakat yang berusaha melakukan berbagai upaya untuk mempertahankan bisnisnya dari dampak penurunan (kerugian) kegiatan perekonomian secara global. Dikutip dari berita Warta Ekonomi (Oktober 2020) bahwa IMF mencatat terjadi kerugian perekonomian global sebesar 12 triliun dollar AS (atau setara Rp. 168.000 triliun) sejak terjadinya pandemi di akhir 2019 hingga menjelang akhir 2020. Sementara dampak pandemi di Indonesia, terlihat jelas dari penurunan RSI (Retail Sales Index) sebesar 181,3 triliun di bulan November 2020. Namun seperti dilansir oleh Harian Kontan (Januari 2021) dalam kondisi yang serba terbatas pada kegiatan perekonomian, Indonesia masih diproyeksikan akan memiliki pertumbuhan sekitar 4,8% pada tahun 2021 dan 6% tahun 2022 oleh IMF. Proyeksi ini akan sangat bergantung pada situasi pengendalian penyebaran Covid-19 dan kebijakan pemerintah dalam melaksanakan vaksinasi Covid-19 secara terpadu dan cermat.

Dari gambaran kondisi perekonomian di atas ada suatu kabar gembira bahwa ternyata perekonomian kerakyatan dan industri kreatif yang berbasis pada kegiatan usaha kecil berperan sebagai tulang punggung pertumbuhannya. Hal tersebut didasarkan pada data BPS tahun 2019 yang menyatakan bahwa subsektor ekonomi kreatif berkontribusi besar menyumbangkan 14.9% produk domestik bruto (PDB). Sementara itu 8,2 juta usaha kreatif di Indonesia didominasi oleh usaha kuliner, fesyen, dan kriya. Selain itu terdapat 4 subsektor yang mengalami pertumbuhan tercepat ketika masa pandemi yaitu TV dan radio; film animasi dan video; seni pertunjukan; dan desain komunikasi visual. Hal ini menjadi sangat jelas bahwa peluang perkembangan dan kemajuan perekonomian di Indonesia pada masa mendatang akan sangat bergantung pada industri kreatif dalam semua kegiatan subsektornya. Industri kreatif bukan hanya mencakup 4 subsektor namun 14 subsektor yaitu: periklanan, arsitektur, pasar barang seni, kerajinan, desain, fashion, video/film/fotografi, permainan interkatif, musik, seni pertunjukan, penerbitan dan percetakan, layanan komputer piranti lunak, telivisi dan radio, serta riset dan pengembangan (Disperindag, 2008). Hal ini semakin membuka peluang bagi subsektor lain untuk berkembang juga.

Dalam rangka mendorong dan mendukung usaha rakyat, maka pemerintah telah menerbitkan UU No. 11/2020 tentang Cipta Kerja dengan turunannya dalam PP No. 7/ 2021 tentang kemudahan, perlindungan dan pemberdayaan koperasi serta UMKM melalui penguatan inkubator kewirausahaan. Kemudian beberapa strategi pengembangan kebijakan juga dilakukan diantaranya adalah meningkatkan penciptaan peluang usaha dan start-up. Dari sisi anggaran disebutkan bahwa pemerintah juga telah mengalokasikan dana sebesar 156 triliun untuk mendukung UMKM dan korporasi. Dengan dukungan seperti ini diharapkan masyarakat akan lebih bersemangat dalam berkompetisi di tengah keterbatasan dan ketidakjelasan kapan pandemi berakhir.
Dengan segala upaya pemerintah telah berusaha untuk memberikan beragam stimulus kebijakan dan bantuan dana. Namun dalam kondisi seperti ini terdapat dua permasalahan yang harus dihadapi yaitu bagaimana mengembangkan subsektor industri kreatif menjadi lebih kuat dalam menghadapi gelombang produk-produk luar Indonesia yang masuk ke dalam negeri tanpa terbendung, dan strategi apa yang dibutuhkan dalam mengembangkan industri kreatif di tengah persaingan produk dari luar.

Dalam mengembangkan industri kreatif diperlukan upaya yang cerdas dan kerja keras terutama dalam menghadapi produk-produk dari luar yang dengan gencar masuk ke pasar domestik. Salah satu upaya cerdas ini adalah dengan menyusun manajemen strategi yang handal. Untuk itu diperlukan juga langkah-langkah yang tepat agar semua kendala dapat diselesaikan secara cepat. Menurut Fred R. David, ada 4 kelompok besar jenis manajemen strategi yaitu strategi integrasi, strategi intensif, strategi diversifikasi, dan strategi defensif. Dengan merujuk referensi di atas, untuk mengembangkan sebuah usaha/bisnis seperti usaha kecil (UMKM) maka manajemen strategi yang diperlukan lebih cenderung pada manajemen strategi intensif dan diversifikasi. Dua manajemen strategi ini mencakup mencari pangsa pasar, pengembangan pasar, dan pengembangan produk. Untuk menjalankan strategi ini, langkah yang harus dilakukan selain inovasi desain produk adalah dengan inovasi dalam bidang marketing digital. Seperti pernah dinyatakan oleh Wakil Menteri Luar Negeri Indonesia di harian online Media Indonesia pada Oktober 2020, terdapat tiga hal yang harus dimiliki oleh pelaku industri kreatif. Hal pertama adalah mengubah tantangan menjadi peluang. Kedua, harus memiliki ketahanan bisnis dan produk. Ketiga, memperkuat kolaborasi lewat G-CINC (Global Center of Excellence for International Cooperation and Creative Economy) sebagai platform dalam merealisasikannya. Langkah-langkah seperti inilah yang harus dilakukan oleh pengusaha kecil dalam menjalankan strategi tersebut. Diperlukan langkah yang tidak biasa-biasa saja tetapi yang lebih dari biasa. Hal tersebut disebabkan oleh persaingan industri dipasar dunia yang tidak hanya mengandalkan harga dan kualitas, tetapi bersaing dengan dua kelompok basis yaitu imajinasi dan kreatifitas; inovasi dan teknologi (Esti dan Suryani, 2008).

Hal selanjutnya terkait kebutuhan sebagai usaha kecil bukan hanya masalah strategi, dana atau kebijakan tetapi juga pendampingan nyata oleh pihak ketiga yang terkait. Pihak ketiga tersebut mencakup komunitas pemerhati usaha kerakyatan atau lembaga-lembaga swadaya dan institusi Perguruan Tinggi. Hal tersebut telah dijelaskan dalam konsep Quadruple Helix yang merupakan kolaborasi empat sektor yaitu: Goverment, Business, Academica and Civil society yang berperan mendorong tumbuhnya inovasi (Alfonso et al, 2012). Keempat sektor tersebut harus saling bersinergi dan terintegrasi untuk meciptakan ketahanan dalam industri kreatif. Sebagai contoh adalah bertahannya industri kriya (interior) sebagai salah satu subsektor dari industri kreatif yang mendominasi dunia usaha. Bertahannya industri ini selain disebabkan oleh dampak pembatasan pergerakan masyarakat di masa pandemi, juga dipicu oleh kondisi dimana masyarakat lebih banyak memiliki kesempatan dalam mendekorasi ulang lingkungan sekitarnya, seperti ruang-ruang di dalam rumah menjadi tempat bekerja atau berproduksi. Hal ini didasari peran ganda yang dimiliki oleh produk kriya yaitu sebagai produk estetis dan juga sebagai produk terapan. Namun dibalik itu ada peran serta kaum cendikiawan dalam mendorong tumbuhnya kreatifitas pada subsektor produk kriya. Para cendikiawan ini berperan dalam mematangkan konsep gagasan atau ide, inovasi dan mendiseminasikannya pada jejaring bisnis melalui hasil penelitiannya yang diterapkan bagi usahawan kecil (Mulyana M & Sutapa S, 2015).

Dalam bagian akhir tulisan ini dapat disimpulkan bahwa untuk pengembangan industri kreatif harus dilakukan langkah-langkah strategis yang tepat dan cermat sehingga semua subsektor industri kreatif dapat berkembang dengan baik dalam situasi saat ini. Segala usaha ini harus pula dilakukan secara bersinergi dan terintegrasi oleh pihak-pihak terkait (pemerintah, akademisi, pelaku bisnis dan konsumen).

Referensi

Afonso, O., S. Monteiro., M. Thomson, 2012, A Growth Model for the Quadruple Helix Innovation Theory, Journal of Business Economics and Management, Vol. 13, Issue 4, page 1-31

David, F. R., David, F. R., & David, M. E. (2013). Strategic management: Concepts and cases: A competitive advantage approach. Upper Saddle River: Pearson.

Departemen Perdagangan Republik Indonesia. 2008. Rencana Pengembangan Ekonomi Kreatif Tahun 2009 – 2025

Esti, R dan Suryani, D, 2008, Potret Industri Kreatif Indonesia, Economic Review, Nomor 212, Jakarta

Mulyana, M., & Sutapa, S. (2015). Peran Quadruple Helix dalam Meningkatkan Kreativitas dan Kapabilitas Inovasi (Studi Pada Industri Kreatif Sektor Fashion). In 2nd Conference in Business, Accounting, and Management 2015. Sultan Agung Islamic University.