KUTU Buku #2 – KUPAS TUNTAS BUKU BERSAMA DOSEN-DOSEN MUDA, ENERGIK, DAN INSPIRATIF IDB BALI

Kegiatan ini merupakan kegiatan bedah buku kedua yang dilaksanakan oleh Institut Desain dan Bisnis Bali. Kegiatan ini menjadi Wadah untuk menginspirasi dosen dan mahasiswa dalam menulis buku, di samping itu, kegiatan ini diharapkan dapat menumbuhkan semangat literasi di kalangan dosen dan mahasiswa. Kegiatan bedah buku yang diselenggarakan oleh Institut Desain dan Bisnis Bali dikemas dalam bentuk obrolan santai dengan konsep talkshow dan ditayangkan juga secara live melalui youtube IDB Bali. Selain membedah buku, penulis  sharing pengalaman seputar penulisan buku.

Seorang penulis multitalenta Anak Agung Ngurah Bagus Kusuma Yudha yang akrab dipanggil Bli Gung Yudha, dihadirkan dalam kegiatan ini. Pengalamannya mengelola beberapa film, yang pada prinsipnya merupakan kesatuan sejumlah momen dalam satu frame, telah memperkuat insting fotografinya untuk menangkap momen-momen istimewa dalam satu jepret foto. Bukunya yang berjudul  “Bali [dalam] Street Photography” direview oleh Bapak Kaprodi DKV IDB Bali, Dr. Ramanda Dimas Suryadinata. Acara yang dipandu Bapak Dewa “Kumis” Gede Purwita yang juga dosen DKV berlangsung kocak dengan selentingan joke-joke menyegarkan suasana.

Dalam pemaparan konsep bukunya Bli Gung Yudha menguraikan bahwa persiapan foto-foto sudah dilakukan sejak 2015. Proses yang memakan waktu paling lama ada pada penyusunan narasi dan kurasi ratusan foto terbaik; Mengingat harapan terbesar yang ingin disampaikan lewat karya bukunya ini agar mampu mewakili realitas keseharian masyarakat dalam mengarungi berbagai fenomena kehidupan. Di samping itu, agar mampu mengungkap sedemikian sibuknya masyarakat Bali dalam berbagai ritus simbolik bernuansa sakral yang berdampingan dengan aktivitas sosial yang bersifat profan.  

Selanjutnya, Bapak Rama menyampaikan sudut pandangnya melalui pendekatan semiotik, bahwa buku photography ini secara sistem tanda dapat dipahami dari sejumlah ilustrasi foto yang ditampilkan telah mampu mewakili bentuk realitas kehidupan, khususnya masyarakat Bali. Makna atau petanda tercermin dari nilai-nilai estetika fotografi sendiri dan disempurnakan dengan teks bernarasi puitis. Jika dikaji lebih kritis dengan pendekatan kajian budaya, ada sejumlah makna sosial yang ingin diungkap penulisnya antara lain kegelisahan, keterpinggiran, bahkan kritik sosial. Acara yang dihadiri oleh 20 peserta secara offline dan 27 orang secara daring semakin seru pada sesi tanya jawab dan tanpa terasa telah mencapai tenggat akhir waktu. Serunya acara diakhiri dengan closing statement. Bapak Rama menegaskan, “karya photografi itu bukan dari mata, tetapi dari pikiran”. Selanjutnya, Bli Gung Yudha selaku penulis menyampaikan pesan sederhana, “melangkah berjalanlah ke luar rumah, tangkap fenomena sambil lewat”. Terakhir, Bapak Dewa Kumis selaku moderator, tidak lupa mengingatkan bahwa buku ini sangat penting bagi pengkayaan buku-buku seni, buku referensi seni khususnya photografi bagi dosen, mahasiswa, pemerhati seni, dan masyarakat luas.